oleh
M.Rifqinizamy Karsayuda
Rifqinizamy Karsayuda Belakangan
ini di negara kita sedang hangat-hangatnya perseteruan antara KPK vs Polri yang
dari hari ke hari semakin memanas. Hampir setiap media menyoroti perkembanga
kasus ini yang belum juga menemui titik temu. Pemicu kisruh antara KPK vs Polri
ini didasari pada pengangkatan calon Kapolri Komjen Budi Gunawan yang menuai
kontroversi karena sebelumnya telah dijadikan tersangka oleh KPK terkait
rekening tidak wajar. Melihat kondisi yang demikian Presiden Joko Widodo akhirnya
menuda pelantikan Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri dan mengangkat Wakapolri
Komjen Badrodin Haiti sebagai Pelaksana Tugas (PLT) Kapolri sementara.
Menyikapi permasalahan tersebut, Polri pun tidak ambil diam dengan menyetujui
laporan Sugianto Sabran yang menyeret nama wakil ketua KPK Bambang Widjojanto
dalam kasus pemberian keterangan palsu pemilukada Kotawaringin Barat 2010
silam.
Pada akhirnya Bambang Widjojanto ditetapkan sebagai tersangka yang
penangkapannya pun menuai kontroversi karena diborgol bagaikan terorois sewaktu
ia mengantarkan sekolah anakknya. Seiring bergulirnya waktu perseteruan antara
KPK vs Polri semakin menjadi-jadi dan terlihat blak-blakan, terbukti dengan
diseretnya beberapa petinggi KPK yang lainnya seperti Ketua KPK Abraham Samad
terkait kasus politik dengan para petinggi PDIP yang dibeberkan oleh PLT Sekjen
PDIP Hasto Kristianto, Adnan Pandu Praja yang disangkakan menggelapkan saham,
dan Zulkarnaen terindikasi kasus gratifikasi di Jawa Timur. Melihat kondisi
tersebut masyarakat luas yang peduli terhadap pemberantasan korupsi melakukan
aksi mendukung KPK dengan slogannya save KPK. Bila membaca secara seksama, jika
kesemuanya dijadikan tersangka publik merasa KPK akan lumpuh dan mati total
bagaikan mayat. Akibatnya terjadi kefakuman dalam tubuh KPK sehingga mengganggu
pemberantasan korupsi di Indonesia. Bambang Widjojanto yang ditemui setelah
beberapa waktu ditahan di mabes Polri juga mengungkapkan ada upaya penghancuran
KPK.
Perseteruan
antara KPK vs Polri ini seakan kembali mengingatkan kepada kita tentang cicak
vs buaya beberapa tahun lalu. Publik pun yang menyoroti kasus ini menduga ada
nuansa politik dalam kisruh tersebut. Apalagi Presiden tak kunjung memberi
keputusan terkait Komjen Budi Gunawan apakah dilantik atau tidak. Presiden Joko
Widodo beerdalih bahwa ia masih menunggu proses pra peradilan dari Komjen
Badrodin Haiti. Presiden Joko Widodo terlihat terjebak dalam dilema besar.
Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang dulunya mengusung Joko Widodo dan akhirnya
terpilih sebagai Presiden terindikasi tetap bersikukuh agar Komjen Budi Gunawan
tetap dilantik. Akan tetapi di lain pihak masyarakat luas meminta agar Komjen
Budi Gunawan tidak dilantik. Presiden sebagai panglima tertinggi di negara ini
pun akhirnya membuat sebuah tim yang dikenal dengan tim sembilan untuk memberi
masukan terkait kisruh antara KPK vs Polri ini termasuk perihal pelantikan
Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri.
Namun beberapa waktu ini sempat terlontar kata dari ketua tim sembilan yakni Buya Syafi’i Ma’arif yang menyatakan bahwa Komjen Budi Gunawan batal dilantik. Hal ini dikatakaannya sesuai telfon dari Presiden Joko Widodo. Perkataan dari Buya Syafi’i Ma’arif sedikit memberi titik temu. Akan tetapi hingga saat ini pun belum ada keputusan yang keluar dari Presiden. Publik harus kembali disuruh menunggu. Menyikapi perseteruan KPK vs Polri ini banyak pihak yang menilai jika Presiden salah langkah ambil keputusan maka akan berakibat fatal bagaikan peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga.
Namun beberapa waktu ini sempat terlontar kata dari ketua tim sembilan yakni Buya Syafi’i Ma’arif yang menyatakan bahwa Komjen Budi Gunawan batal dilantik. Hal ini dikatakaannya sesuai telfon dari Presiden Joko Widodo. Perkataan dari Buya Syafi’i Ma’arif sedikit memberi titik temu. Akan tetapi hingga saat ini pun belum ada keputusan yang keluar dari Presiden. Publik harus kembali disuruh menunggu. Menyikapi perseteruan KPK vs Polri ini banyak pihak yang menilai jika Presiden salah langkah ambil keputusan maka akan berakibat fatal bagaikan peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga.
perang lagi nih..
BalasHapustulisan tulisan mas rifqi ini sangat bernas dan tajam,tak hanya itu, teori yang dipakai untuk mengurai juga sangat tepat....makasih mas
BalasHapusmantap, semoga bermanfaat
BalasHapus